JANGAN NGAMBEK TERLALU LAMA

22 Nov

ngambekJangan “ngambek” berkepanjangan sama orang yang kamu kasihi
Bagi yg sudah pernah baca,luangkan waktu untuk baca sekali lagi
Ini adalah cerita sebenarnya
(diceritakan oleh Lu Di dan dijadikan sebuah karya tulis oleh Anda Fadillah )
Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.Tatkala
nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka,tetapi segalanya sudah terlambat.Â
Membawa nenek untuk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami,malah
telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun
menikah,saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama .

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya,dia adalah satu-satunya harapan
nenek,nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju,kami segera menyiapkan sebuah kamar yg
menghadap taman untuk nenek,agar dia dapat berjemur,menanam bunga dan
sebagainya.Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari,tidak
sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar
saya seperti adegan dalam film India dan berkata :”Mari,kita jemput nenek di
kampung”.

Suami berbadan tinggi besar,aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg
bidang,ada suatu perasaan nyaman dan aman disana.Aku seperti sebuah boneka kecil
yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya.Kalau terjadi
selisih paham diantara kami,dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas
kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku
sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah.Aku suka sekali menghias rumah dengan
bunga segar,sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada
suami:”Istri kamu hidup foya-foya ,buat apa beli bunga?Kan bunga tidak bisa
dimakan?” Aku menjelaskannya kepada nenek:”, rumah dengan bunga segar membuat
rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira.”Nenek berlalu sambil
mendumel,suamiku berkata sambil tertawa:”Nenek,ini kebiasaan orang kota,lambat
laun Nenek akan terbiasa juga.”

Nenek tidak protes lagi,tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa
bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu,setiap
mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan
kepala.Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa
harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab,dia selalu berdecak dengan suara
keras.Suamiku memencet hidungku sambil berkata:”Putriku,kan kamu bisa
berbohong.Jangan katakan harga yang sebenarnya.” Lambat laun,keharmonisan dalam
rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan
pagi untuk dia sendiri,di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur
adalah hal yang sangat memalukan.Di meja makan,wajah nenek selalu cemberut dan
aku sengaja seperti tidak mengetahuinya.Nenek selalu membuat bunyi-bunyian
dengan alat makan seperti sumpit dan sendok,itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari,seharian terus menari membuat badanku sangat
letih,aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi
disaat musim dingin.Nenek kadang juga suka membantuku di dapur,tetapi makin
dibantu aku menjadi semakin repot,misalnya;dia suka menyimpan semua
kantong-kantong bekas belanjaan,dikumpulkan bisa untuk dijual katanya.Jadilah
rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik,dimana-mana terlihat kantong
plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci,agar
supaya dia tidak tersinggung,aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia
sudah tidur.Suatu hari,nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam
harinya,dia segera masukke kamar sambil membanting pintu dan menangis.Suamiku
jadi serba salah,malam itu kami tidur seperti orang bisu,aku coba bermanja-manja
dengan dia,tetapi dia tidak perduli.Aku menjadi kecewa dan marah.”Apa salahku?”
Dia melotot sambil berkata:”Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan
dengan pring itu bisa membuatmu mati?”

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama,suasana mejadi
kaku.Suamiku menjadi sangat kikuk,tidak tahu harus berpihak pada siapa?Nenek
tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur,setiap pagi dia selalu bangun lebih
pagi dan menyiapkan sarapan untuknya,suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya
jika melihat suamiku makan dengan lahap,dengan sinar mata yang seakan mencemohku
sewaktu melihat padaku,seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang
istri?

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu,aku selalu membeli makanan diluar
pada saat berangkat kerja.Saat tidur,suami berkata:”Lu di,apakah kamu merasa
masakan Nenek tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di
rumah?” sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir
di kedua belah pipiku.Dan dia akhirnya berkata:”Anggaplah ini sebuah
permintaanku,makanlah bersama kami setiap pagi.”Aku mengiyakannya dan kembali ke
meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur,kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan
yg sangat mual menimpaku,seakan-akan isi perut mau keluar semua.Aku menahannya
sambil berlari ke kamar mandi,sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi
perut.Setelah agak reda,aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi
dan memandangku dengan sinar mata yg tajam,diluar sana terdengar suara tangisan
nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya.Aku terdiam dan terbengong tanpa
bisa berkata-kata.Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.

Pertama kali dalam perkawinanku,aku bertengkar hebat dengan suamiku,nenek
melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh……suamiku segera
mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku.Aku
sangat kecewa,semenjak kedatangan nenek di rumah ini,aku sudah banyak
mengalah,mau bagaimana lagi?Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan
nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau,sungguh sangat
menyebalkan.Akhirnya teman sekerjaku berkata:”Lu Di,sebaiknya kamu periksa ke
dokter.”Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil.Aku baru sadar mengapa aku
mual-mual pagi itu.Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan.Mengapa
suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku,3 hari tidak bertemu dia berubah
drastis,muka kusut kurang tidur,aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba
membuatku tertegun dan memanggilnya.Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan
tidak mengenaliku lagi,pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu
melukaiku.Aku berkata pada diriku sendiri,jangan lagi melihatnya dan segera
memanggil taksi.Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki
seorang anak.Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar
sampai aku minta ampun tetapi….. mimpiku tidak menjadi kenyataan.Didalam taksi
air mataku mengalir dengan deras.Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat
buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi,memikirkan
sinar matanya yg penuh dengan kebencian,aku menangis dengan sedihnya.Tengah
malam,aku mendengar suara orang membuka laci,aku menyalakan lampu dan melihat
dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya.Aku
nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata.Dia seperti tidak melihatku saja dan
segera berlalu.Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku.Sungguh
lelaki yg sangat picik,dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta
dengan uang.Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya,aku ingin secepatnya membereskan masalah
ini,aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di
kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah
bingung.”Neneknya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan
sedang berada di rumah sakit.Mulutku terbuka lebar.Aku segera menuju rumah sakit
dan saat menemukannya,nenek sudah meninggal.Suamiku tidak pernah
menatapku,wajahnya kaku.Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku.Sambil
menangis aku menjerit dalam hati:”Tuhan,mengapa ini bisa terjadi?”

Sampai selesai upacara pemakaman,suamiku tidak pernah bertegur sapa
denganku,jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan
kebencian.Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain,pagi itu nenek
berjalan ke arah terminal,rupanya dia mau kembali ke kampung.Suamiku mengejar
sambil berlari,nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg
datang ke arahnya dengan kencang.Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku
penuh dengan kebencian.Jika aku tidak muntah pagi itu,jika kami tidak
bertengkar, jika…………dimatanya,akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek,setiap malam pulang kerja dengan badan penuh
dengan bau asap rokok dan alkohol.Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga
diriku terinjak-injak.Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan
juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak.Tetapi melihat sinar
matanya,aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.Aku rela dipukul atau
dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku.Waktu berlalu dengan sangat
lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain.Dia
pulang makin larut malam.Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari,aku berjalan melewati sebuah cafe, melalui keremangan lampu dan
kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam.Dia sedang
menyibak rambut sang gadis dengan mesra.Aku tertegun dan mengerti apa yg telah
terjadi.Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam
kearahnya.Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak
tahu harus berkata apa.Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera
hendak berlalu.Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan
sinar mata yg tidak kalah tajam dariku.Suara detak jantungku terasa sangat
keras,setiap detak suara seperti suara menuju kematian.Akhirnya aku mengalah dan
berlalu dari hadapan mereka,jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku
dihadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah.Seakan menjelaskan padaku apa yang telah
terjadi.Sepeninggal nenek,rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah
berakhir.Dia tidak kembali lagi ke rumah,kadang sewaktu pulang ke rumah,aku
mendapati lemari seperti bekas dibongkar.Aku tahu dia kembali mengambil
barang-barang keperluannya.Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang
terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini.Tetapi itu tidak
terjadi………,semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri,pergi check kandungan seorang diri.Setiap kali
melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama,hati ini serasa
hancur.Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini,tetapi aku
seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya.Hitung-hitung sebagai
pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

“Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.Ruangan penuh
dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja,tidak perlu tanya aku juga
tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri,aku sudah bisa mengontrol emosi.Sambil
membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya:””Tunggu sebentar,aku akan segera
menanda tanganinya””.Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga
aku.Aku berkata pada diri sendiri,jangan menangis,jangan menangis.Mata ini
terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak
keluar.Selesai membuka mantel,aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia
memperhatikan perutku yg agak membuncit.Sambil duduk di kursi,aku menanda
tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya.””Lu di,kamu hamil?”” Semenjak nenek
meninggal,itulah pertama kali dia berbicara kepadaku.Aku tidak bisa lagi
membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya.Aku
menjawab:””Iya,tetapi tidak apa-apa.Kamu sudah boleh pergi””.Dia
tidak pergi,dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan.Perlahan-lahan
dia membungkukan badanya ke tanganku,air matanya terasa menembus lengan
bajuku.Tetapi di lubuk hatiku,semua sudah berlalu,banyak hal yg sudah  pergi
dan tidak bisa diambil kembali.”

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:”Maafkan aku,maafkan
aku”.Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa.Tatapan matanya di
cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta diantara kami telah ada sebuah luka
yg menganga.Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair,tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah
kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku,aku bisa bertahan untuk terus
hidup.Terhadapnya,hatiku dingin bagaikan es,tidak pernah menyentuh semua makanan
pembelian dia,tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi
dengannya.Sejak menanda tangani surat itu,semua cintaku padanya sudah
berlalu,harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku,aku segera berlalu ke
ruang tamu,dia terpaksa kembali ke kamar nenek.Malam hari,terdengar suara orang
mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli.Itu adalah permainan dia
dari dulu.Jika aku tidak perduli padanya,dia akan berpura-pura sakit sampai aku
menghampirinya dan bertanya apa yang sakit.Dia lalu akan memelukku sambil
tertawa terbahak-bahak.Dia lupa……..,itu adalah dulu,saat cintaku masih
membara,sekarang apa lagi yg aku miliki?Â

Begitu seterusnya,setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku
lahir.Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan
bayi,perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak.Setumpuk demi
setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang.Aku tahu dia mencoba
menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming.Terpaksa dia mengurung diri dalam
kamar,malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard
komputer.Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya
pikirku.Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi,perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku
berteriak dengan suara yg keras.Dia segera berlari masuk ke kamar,sepertinya dia
tidak pernah tidur.Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya.Aku digendongnya dan
berlari mencari taksi ke rumah sakit.Sepanjang jalan,dia mengenggam dengan erat
tanganku,menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku.Sampai di rumah
sakit,aku segera digendongnya menuju ruang bersalin.Di punggungnya yg kurus
kering,aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya.Sepanjang hidupku,siapa lagi
yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin,dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang
saat aku didorong menuju persalinan,sambil menahan sakit aku masih sempat
tersenyum padanya.Keluar dari ruang bersalin,dia memandang aku dan anakku dengan
wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia.Aku memegang tanganya,dia
membalas memandangku dengan bahagia,tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke
lantai.Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar,dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya………aku pernah
berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya,tetapi
kenyataannya tidak demikian,aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini.Kata
dokter,kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan,bisa bertahan sampai
hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat.Aku tanya kapankah kanker itu
terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter,bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan
terburuk.Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat,aku segera pulang ke
rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya,aku masih
berpikir dia sedang bersandiwara. Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam
komputer yg ditujukan kepada anak kami.”Anakku,demi dirimu aku terus
bertahan,sampai aku bisa melihatmu.Itu adalah harapanku.Aku tahu dalam hidup
ini,kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan,sungguh bahagia
jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk
itu.Didalam komputer ini,ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap
segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi.Kamu boleh mempertimbangkan saran
ayah.

“””Anakku,selesai menulis surat ini,ayah merasa telah menemanimu hidup selama
bertahun -tahun.Ayah sungguh bahagia.Cintailah ibumu,dia sungguh menderita,dia
adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai””.
Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK,SD,SMP,SMA sampai
kuliah,semua tertulis dengan lengkap didalamnya.Dia juga menulis sebuah surat
untukku.””Kasihku,dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan
dalam hidup ini.Maafkan salahku,maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang
penyakitku.Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh
karenanya.Kasihku,jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini,berarti kau
telah memaafkan aku.Terima kasih atas cintamu padaku selama ini.Hadiah-hadiah
ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannyapada anak kita.Pada bungkusan
hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya””.

Kembali ke rumah sakit,suamiku masih terbaring lemah.Aku menggendong anak kami
dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata:”Sayang,bukalah matamu
sebentar saja,lihatlah anak kita.Aku mau dia merasakan kasih sayang dan
hangatnya pelukan ayahnya”.Dengan susah payah dia membuka
matanya,tersenyum…………..anak itu tetap dalam dekapannya,dengan tanganya
yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah.Tidak tahu aku sudah
menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air
mata……………….

Teman2 terkasih,aku sharing cerita ini kepada kalian,agar kita semua bisa
menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh
mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis,ingatlah pesan dari cerita ini
:”Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling
mengasihi,sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati.Siapa tau apa yg akan
terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan:Jika kita tahu besok adalah hari
kiamat,apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg
telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat,pikirlah matang2 semua
yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.

demikian lah curahan dari teman saya Lu Di

One Response to “JANGAN NGAMBEK TERLALU LAMA”

  1. bpmkotabandaaceh November 23, 2011 at 8:30 am #

    tulisannya perlu di edit biar teratur, malas jadi bacanya… kaya puisi.
    TAPI UDAH ok BANGET TU ARTIKEL NYA….
    SALAM BUAT lu DI & ANDA😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: